beritadunesia-logo

Desa Bacukiki

Desa ini terletak sekitar 30 menit ke arah tenggara dari pusat kota. Desa ini merupakan wilayah bekas Kerajaan Bacukiki yang berdiri sekitar abad XV. Sebuah batu yang dianggap keramat bagi penduduk sekitar menjadi simbol dari penamaan wilayah ini. Bacukiki berasal dari kosa kata Bugis ’Batukiki’ yang berarti Batu Meringkik.

Konon, dari batu ini seringkali terdengar ringkikan kuda yang menandakan datangnya salah satu dari tiga hal yakni; adanya kematian di kalangan istana, akan ada wabah penyakit menyerang kampung, dan adanya musibah seperti kebakaran. Penduduk setempat menyatakan suara ringkikan kuda itu terakhir terdengar sepuluh tahun lalu dari batu yang berada persis di belakang rumah dinas kepala sebuah sekolah dasar ketika seorang menantu dari penguasa terakhir Kerajaan Bacukiki meninggal dunia Kini, rumah dinas itu dibiarkan terbengkalai tak berpenghuni karena tak seorang pun berani menempatinya.

Sisa-sisa peninggalan kerajaan kini disimpan di Museum Labangengnge’, sementara pada bekas berdirinya Saoraja (istana raja) kini berdiri sebuah mesjid yang berada tepat di depan Kantor Kelurahan Wattang Bacukiki.

Sebagai wilayah peninggalan zaman kerajaan, sebagian masyarakat desa ini masih memelihara keyakinan mereka pada Dewata Sewuae. Sebuah kepercayaan sebelum datangnya Islam ke bumi Sulawesi. Para penganut kepercayaan itu dikenal dengan nama Tau Lotang yang banyak tersebar di kabupaten lain yaitu Sidrap dan Wajo.

Tak jauh dari dari desa ini terdapat sebuah bukit yang bernama Bulu Ruangnge. Penganut Tau Lotang meyakini bahwa di bukit inilah ’To Manurung’ pertama kali menampakkan diri. To Manurung inilah yang menjadi awal adanya raja-raja yang memerintah kerajaan Bacukiki. Setiap akhir Januari kaum Tau Lotang ini berkumpul di Bulu Ruangnge mengadakan ibadah ’naik haji’. Tau Lotang ini juga berkumpul di sebuah wilayah di Kabupaten Wajo setiap awal Januari.

http://www.pareparekota.go.id